
JAKARTA – Di bawah langit Jakarta yang teduh pada Sabtu pagi, 11 April 2026, sebuah rombongan kecil namun sarat makna melangkah perlahan di antara deretan nisan di TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama. Sebanyak enam orang Sahabat dan Sahabati yang tergabung dalam barisan alumni PMII Rayon “Penyelamat” Dja’far Saifuddin, Komisariat Sunan Ampel Malang (UIN Malang) hadir untuk sebuah misi spiritual: menziarahi makam almarhum dr. H. Fahmi Dja’far Saifuddin, MPH.
Ziarah ini bukanlah sekadar ritual biasa. Bagi para kader yang tumbuh di bawah naungan bendera Rayon Dja’far, sosok dr. Fahmi adalah “akar” dan “ruh” dari identitas organisasi mereka. Nama beliau diabadikan sebagai nama rayon bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghormatan abadi atas dedikasi luar biasa seorang Nahdliyin yang mampu mengawinkan ilmu kedokteran dengan pengabdian total kepada umat dan organisasi.
Menyambung Sanad Perjuangan
Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan doa tahlil terdengar khidmat di pusara almarhum. Kehadiran para alumni ini bertujuan untuk mengirimkan doa terbaik sekaligus merawat ukhuwah (persaudaraan) yang melintasi dimensi waktu. Bagi mereka, berziarah adalah cara paling intim untuk berkomunikasi dengan sejarah.
H. Fahmi Dja’far Saifuddin dikenal luas sebagai tokoh intelektual yang memiliki jejak pengabdian mendalam. Kiprahnya sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di masa lalu menjadi bukti nyata bahwa seorang dokter mampu menjadi motor penggerak organisasi Islam terbesar di dunia. Kombinasi antara ketajaman intelektual di bidang kesehatan masyarakat (MPH) dan ketulusan berkhidmat di NU inilah yang menjadi fondasi nilai bagi kader PMII Rayon Dja’far.

Meneladani Keikhlasan dan Khidmat
Dalam suasana yang penuh keheningan, para peserta ziarah melakukan refleksi mendalam. Tujuan utama dari agenda ini adalah untuk menyerap nilai-nilai perjuangan dan keikhlasan yang ditinggalkan oleh dr. Fahmi. Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, para alumni merasa perlu kembali ke “sumber mata air” inspirasi guna memperkuat niat dalam berkhidmat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
“Nama dr. Fahmi Dja’far Saifuddin yang kami sandang di Rayon adalah sebuah beban moral sekaligus kebanggaan. Beliau mengajarkan bahwa khidmat di PMII dan NU tidak boleh menghalangi kita untuk menjadi profesional yang unggul di bidangnya, seperti beliau di dunia medis,” ujar salah satu alumni di sela-sela ziarah.
Refleksi Masa Depan
Ziarah yang berlangsung pada pertengahan April ini menjadi pengingat bahwa estafet perjuangan tidak boleh terputus. Dengan meneladani sosok dr. Fahmi, para alumni berharap dapat membawa semangat “profesionalisme yang religius” ke dalam ranah pengabdian mereka masing-masing di masyarakat.
Melalui kunjungan ke TPU Tanah Kusir ini, enam orang perwakilan alumni Rayon PMII “Penyelamat” Dja’far Saifuddin seolah kembali meneguhkan janji organisasi. Bahwa ber-PMII bukan hanya soal berproses di masa mahasiswa, melainkan tentang komitmen seumur hidup untuk terus menebar manfaat, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh sang dokter, sang organisatoris, dan sang pejuang kemanusiaan: dr. H. Fahmi Dja’far Saifuddin, MPH.