Merajut Benang Pergerakan: Pesan Menyentuh Prof. Agus Maimun-Ketua IKAPMII Sunan Ampel Malang-di Harlah PMII

Momen perayaan Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-66 di Malang tahun ini bukan sekadar seremoni atau temu kangen lintas generasi. Di bawah langit mendung tipis yang menyelimuti Kota Malang, Jumat, 17 April 2026, suasana di Lantai 4 Rumah Singgah Kampus Pascasarjana UIN Malang terasa lebih hangat sekaligus sarat makna.

Acara Halalbihalal sekaligus Harlah PMII yang digelar oleh Komisariat Sunan Ampel Malang bersama jajaran alumni (IKAPMII) menjadi panggung bagi sebuah refleksi mendalam tentang masa depan organisasi. Di hadapan ratusan pasang mata—mulai dari kader yang masih mengenakan atribut kebesaran hingga para alumni yang kini telah melanglang buana di berbagai sektor—Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd., berdiri menyampaikan pesan yang menggetarkan.

Menenun Kembali Benang Merah Pergerakan

Ketua IKAPMII Sunan Ampel Malang tersebut tidak sekadar memberikan sambutan formalitas. Dengan nada suara yang kebapakan namun tegas, Prof. Agus Maimun menekankan bahwa hubungan antara alumni dan kader aktif bukan sekadar hubungan nostalgia, melainkan hubungan fungsional yang strategis.

Ada lima poin esensial yang ia garis bawahi sebagai “peta jalan” bagi PMII Sunan Ampel Malang ke depan:

  • Kaderisasi yang Relevan: Beliau menegaskan bahwa IKAPMII berkomitmen penuh memfasilitasi kebutuhan intelektual kader. “Dunia hari ini butuh data. Kami siap memfasilitasi sekolah riset dan pelatihan spesifik lainnya agar kader tidak gagap menghadapi tantangan zaman,” ungkapnya.
  • Loyalitas Tanpa Batas: Baginya, keteladanan adalah kunci. IKAPMII tidak boleh hanya hadir saat acara besar, tapi harus menjadi contoh nyata dalam membersamai setiap derap langkah kegiatan PMII di lapangan.
  • Satu Komando Militansi: Di tengah dinamika sosial yang cepat, kesatuan gerak antara PMII dan alumninya adalah harga mati. Beliau menyerukan satu komando dalam mengawal program organisasi agar dampak yang dihasilkan lebih terasa bagi masyarakat.
  • Jejaring Strategis: Sebagai “kakak tertua”, IKAPMII mengambil peran sebagai jembatan. Fasilitasi jejaring mitra strategis akan dibuka lebar demi pengembangan sumber daya manusia (SDM) kader, sehingga setelah lulus, mereka memiliki daya saing yang mumpuni.

Benteng Ideologi di Tengah Arus Radikalisme

Pesan yang paling menyentuh nurani hadirin adalah ketika Prof. Agus berbicara mengenai Penguatan Ideologi. Di tengah gempuran pemikiran ekstrem yang kian halus masuk ke ruang-ruang akademik, beliau mengingatkan bahwa PMII dan IKAPMII harus menjadi garda terdepan.

“Kita punya mandat sejarah untuk menjaga nafas ASWAJA dan keutuhan NKRI. Jangan beri ruang bagi radikalisme dan terorisme untuk merusak tatanan bangsa ini,” tegasnya disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Sore itu, di gedung yang menjadi saksi bisu perjalanan intelektual banyak orang tersebut, pesan Prof. Agus seolah menjadi pengingat bahwa menjadi kader PMII adalah komitmen seumur hidup. Harlah kali ini bukan hanya tentang merayakan usia, tapi tentang memperbarui janji setia kepada organisasi dan bangsa.

Pertemuan tersebut ditutup dengan jabat tangan hangat dan pelukan persaudaraan yang erat. Di mata para kader muda, wejangan tersebut bukan sekadar instruksi, melainkan energi baru untuk terus bergerak, berproses, dan menjaga api pergerakan tetap menyala di Bumi Arema.

Social Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top