Pada kegiatan Forum Group Discussion (FGD) dalam rangkaian masa penerimaan anggota baru, peserta membahas tema “Kepemimpinan di Zaman Sekarang: Lebih Relevan Mana Tipe Kepemimpinan Otoriter atau Demokratis?”. Diskusi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta dalam menganalisis gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat modern. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tim yang mendukung kepemimpinan otoriter dan tim yang mendukung kepemimpinan demokratis, sehingga tercipta pertukaran gagasan yang kritis dan konstruktif.
Tim yang mendukung kepemimpinan otoriter berpendapat bahwa tipe kepemimpinan ini masih relevan dalam kondisi tertentu, terutama ketika organisasi atau kelompok menghadapi situasi darurat yang membutuhkan keputusan cepat dan tegas. Menurut mereka, pemimpin yang memiliki kendali penuh dapat meminimalkan perdebatan yang berlarut-larut serta mempercepat proses pengambilan keputusan. Selain itu, kepemimpinan otoriter dinilai mampu menciptakan kedisiplinan yang tinggi karena adanya aturan yang jelas dan kewenangan yang kuat dari seorang pemimpin.

Lebih lanjut, tim pro otoriter menilai bahwa tidak semua anggota organisasi memiliki kapasitas atau pengalaman yang sama dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, keberadaan pemimpin yang dominan dianggap dapat mengarahkan organisasi menuju tujuan yang telah ditetapkan secara lebih efektif. Mereka juga berpendapat bahwa dalam kondisi tertentu, terlalu banyak masukan dan pertimbangan dapat memperlambat proses kerja dan mengurangi efisiensi organisasi.
Di sisi lain, tim yang mendukung kepemimpinan demokratis berpendapat bahwa gaya kepemimpinan ini lebih relevan dengan perkembangan zaman yang menekankan partisipasi, kolaborasi, dan keterbukaan. Menurut mereka, pemimpin demokratis mampu menciptakan lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap anggota untuk menyampaikan pendapat, ide, dan kritik secara konstruktif. Hal tersebut dapat meningkatkan rasa memiliki, tanggung jawab, dan motivasi anggota dalam mencapai tujuan bersama.
Tim pro demokratis juga menekankan bahwa generasi saat ini cenderung lebih menghargai komunikasi dua arah dibandingkan sistem yang bersifat satu arah. Dengan melibatkan anggota dalam proses pengambilan keputusan, organisasi dapat memperoleh berbagai perspektif yang lebih beragam sehingga menghasilkan kebijakan yang lebih matang dan dapat diterima oleh banyak pihak. Selain itu, kepemimpinan demokratis dinilai mampu membangun hubungan yang harmonis antara pemimpin dan anggota, serta mendorong terciptanya budaya kerja yang sehat dan inovatif.

Selama proses diskusi, kedua kelompok menyampaikan berbagai contoh penerapan gaya kepemimpinan dalam lingkungan organisasi, pendidikan, maupun pemerintahan. Masing-masing kelompok mempertahankan argumennya dengan menunjukkan kelebihan dan kelemahan dari kedua tipe kepemimpinan tersebut. Diskusi berlangsung secara aktif dengan tetap menjunjung tinggi sikap saling menghargai perbedaan pendapat dan berfokus pada pencarian solusi yang objektif.
Berdasarkan hasil diskusi, peserta menyimpulkan bahwa baik kepemimpinan otoriter maupun demokratis memiliki peran dan relevansinya masing-masing sesuai dengan situasi yang dihadapi. Namun, dalam konteks perkembangan masyarakat dan organisasi modern, kepemimpinan demokratis dinilai lebih sesuai karena mampu mengakomodasi partisipasi, kolaborasi, dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan. Meskipun demikian, unsur ketegasan yang sering ditemukan dalam kepemimpinan otoriter tetap diperlukan sebagai pelengkap agar kepemimpinan dapat berjalan secara efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan.